WELCOME to MY BLOG

WELCOME to MY BLOG
0

Bertengkar dengan Petugas Check In di Jepang

Posted by Achmad Rizal on 13.06

Saat itu saya sedang bersama teman saya, Yabes berada di airport Sendai. Kami berniat kembali pulang ke Indonesia setelah seminggu berada di Jepang mengikuti JUEMUN. Ada sebuah kejadian yang sampai sekarang selalu membuat saya ketawa kalau mengingatnya. Andaikan saya tidak selamat waktu itu pasti saya udah ketinggalan pesawat saya ke Indonesia.

Ceritanya, malam itu Yabes dan saya sedang menunggu di depan tempat check in di bandara Sendai. Karena gate check in belum buka, kami sempatkan untuk berlalu lalang dan beriternet ria, meanfaatkan wifi bandara. FYI, wifi manapun di Jepang kualitasnya sama, super cepat. Beda sekali dengan yang kita alami di Indonesia, di satu tempat dan di tempat lain kecepatannya beda-beda, dan pasti banyak yang lemot. Ok, pada saat gate dibuka, kami maju di row awal. Tiket kami diperiksa, dan jreng!!! Mbak-mbak petugas nya bilang kami harus bayar bagasi. Waduh! Mbaknya bilang karena kami ini mengganti jadwal penerbangan kami yang semula kemaren menjadi hari ini, secara otomatis bagasi kami tercancel. Maigats. Kenapa baru bilang sekarang Mbak! Saya udah ngotot ke mbaknya kalau pembayaran kami semua sudah beres. Sebenarnya sih yang membelikan tiket Sendai-Osaka ini bukan saya, tapi teman SMA saya yang sekarang kuliah di Tohioku, Dewi namanya. Dewi bilang semua udah OK, tinggal ngeprint E-ticket dan kami siap masuk ke pesawat.

“You may enter to the cabin, but not your baggage,” kata mbaknya sambil terbata-bata dalam mengucapkan bahasa inggris. OK, mungkin ada sebuah kesalahan. Dan kami yang mengalah, saya keluarkan sejumlah uang yang diminta mbak-mbak itu. “NO, sir! Not cash, credit card.” Mamppus, credit card siapa yang mau dipake. Secara saya dan Yabes ini belum punya credit card saat itu. Hem, kepanikan kami meningkat, mengingat kami sudah menyebabkan antrian check in yang panjang di belakang kami. Karena agak kesel, mbaknya menggeser saya dan Yabes ke samping kanan, supaya orang-orang lain bisa check in. Saya mencoba melobi mbaknya dengan cara apapun, tetap tidak bisa. Apalagi mbaknya agak susah bahasa inggris, dan saya tidak bisa bahasa Jepang. Sampai susahnya berkomunikasi dan takiut misunderstanding, mbaknya menggunakan translator elektronik, mengetik kata jepangnya, translate ke inggris baru ditunjukkan ke saya. Oh men, capek. Hati semakin deg-degan.

H-15 menit penutupan gate check in. apa yang harus saya perbuat. Saya dan Yabes panik. Hem, kalau kami tidak ke Osaka malam itu juga, saya harus rela ketinggalan pesawat garuda saya ke Indonesia esok paginya. “Ok, sir you may get inside, but your luggage must be sent to Osaka separately.” Lah! Nyampainya kapan mbak? Tomorrow evening. Hilang dong pesawat saya! Mampus, beli pesawat ga segampang itu. Dikira, ambil duit tinggal balik tangan!

H-10 menit!!! Tambah pengen pipis saking paniknya! Saya kehabisan ide, saya telpon Dewi. Untung saya nyimpen nomornya. Dan saya masih ingat, saya masih punya cukup pulsa buat roaming. Ok, tersambung. Tutt… Hallo Dew, bisa tolong aku? Aku mau check in Peach, tapi mbak-mbak petugas nya bilang tiket yg kamu belikan ini belum termasuk bagasi, hangus katanya, gara-gara kita pindah jadwal. “Hem… sstt, bentar ya, aku masih di kereta. Ntar ak telpon lagi.” Demi apa Dewi mematikan telepon. Dia lagi di kereta, dan setahu saya emang di kereta Jepang dilarang telponan. Maigat. Ini udh kehilangan akal. Udah mau menyerah. Pas H-5 menit, Bang Rifqi menelpon. Mahasiswa S3 Tohoku yang banyak berjasa memberikan saya dan Yabes akomodasi GRATIS. Saya angkat, Bang, tolong bantu ngomong ke mbak-mbak ini. Saya berikan handphone saya, dan mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jepang yang saya sama sekali tidak paham. Tiba-tiba mbak-mbak ini mengeklik ini itu, menyebutkan angka-angka dan KLIK! Koper saya dibendel SDJ-KIX. Yeey! H-3 menit saat sudah sepi tidak ada antrian, koper kami semua masuk. Urusan beres.

kami berjalan masuk ke ruang tunggu dengan senang dan mengusap keringat. Kamilah penumpang pesawat Peach saat itu yang paling terakhir masuk ruang tunggu. Thanks to Bang Rifqi dan Dewi. Tanpa mereka, gatau deh. Mungkin saya masih meninggalkan koper saya di Jepang. Hehe…




Inilah Pesawat yang kami nanti-nantikan


Saya juga agak merasa bersalah setelah bertengkar agak alot dengan petugas check in tadi. Waktu open gate masuk ke pesawat, mbak-mbak tadi ada di sana. Kami lewat, saya lihat ke mereka. Mereka menunduk, haha. Mang enak berurusan sama orang Indonesia. Kalo udah marah, hem, semua jurus keluar. Kasian juga mbak-mbak tadi, tidak seharusnya kita marah, yah arena panik aja sih. Lagian susah amat diajak kompromi.

Pelajaran: Bagi kalian yang suka traveling, cepetan punya kartu kredit. Selain mempermudah pembayaran sana sini, kartu ini praktis dibawa kemana-mana dan ngga ribet.


0 Comments

Posting Komentar

Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive | Free Blogger Templates created by The Blog Templates