WELCOME to MY BLOG

WELCOME to MY BLOG
0

Empat Hari, Tiga Negara

Posted by Achmad Rizal on 11.45
Trip ke Hong Kog ini adalah trip yang terjadi akibat promo Singapore Airlines (SQ). Kira-kira setahun yang lalu, SQ mengadakan promo ke beberapa destinasi menarik salah satunya Hong Kong. Tanpa basa basi, sebagai fans berat SQ, saya langsung cari tanggal dan mencoba menemukan harga paling bagus. Ketemulah 19-25 Sep 2017, tapi trasit berangkatnya 19 jam di Singapore, saya sih tambah seneng karena bisa jalan-jalan dulu seharian di SG. Tanggal ini saya pilih berdasarkan kira-kira aja. Kira-kira saya sudah selesai yudisium dan kira-kira itu tanggal sebelum hari H wisuda, padahal sebenarnya jawal pasti dari kampus belum keluar. E-ticket issued. Saya sih nekat aja, mengingat 3.8Jt PP SUB-HKG by SQ adalah LANGKA.

Keadaan berkata lain, mendekati keberangkatan, Saya ada jadwal tanda tangan ijazah tanggal 24 September. Sedih, tapi yasudah, kan jadwal kampus ga bisa diotak-atik, apalagi ttd ijazah, mana bisa diwakilkan. Bingung antara berangkat atau ngga ke Hong Kong ini. Tapi sayang juga sih kalo tiket dibuang percuma, mengingat tiket ini tidak bisa di-reschedule ataupun di-refund (saya sampe menghubungi maskapai dan traveloka untuk pemindahan jadwal tapi tetep ga bisa, namanya juga promo, yasudah). Pada akhirnya, saya putuskan tetap berangkat. Karena jadwal yang bermasalah adalah jadwal pulang, jadi saya harus beli tiket (lagi) kepulangan dari HKG ke SUB 22 Sep malam. Cek traveloka, termurah scoot (saudaranya Tiger Air) 1.8juta. Ga usah muluk-muluk cari SQ, karena mahalnya minta ampun (5 kali lipat harga scoot). Ga pikir panjang, saya ambil scoot HKG Sub via SIN 22 September penerbangan malam hari. Loading, surprisingly, di menu pembayaran, harganya jadi 900rb. Kok bisa jadi cuma separuhnya? Jangan-jangan ini HKG SIN aja, SIN SUB nya ngga. Antara (agak) seneng dan bingung. Tapi cepet-cepet saya selesaikan pembayarannya takut harga berubah lagi, LoL. Issuedlah tiket saya HKG SUB, 900rb. Memang betul HKG-SUB 900rb saya dapat. Kerena penasaran, saya cek ulang di menu pencarian tidak lama setelah itu, harga sudah balik ke 1.8Jt  lagi. How lucky I was. Yasudah ini berarti memang harus berangkat dengan pulangnya lebih cepat. Bismillah.

The view from my seat

SINGAPORE

Berangkat dari SUB pagi jam 10.10 WIB, 19 Sep. Sampai SIN jam 13.30 Waktu Singapore. Pesawatnya A330 dengan konfigurasi seat 2-4-2. Pesawat ke Hong Kong masih besoknya, jam 08.40 dari SIN, jadi saya punya waktu transit 19 jam 10 menit. Setelah melewati imigrasi, saya langsung exploring the city. Tujuan utama saya adalah hunting foto di skydeck (Sands SkyPark) Marina Bay Sands. Sebenarnya saya sudah pernah ke situ, tapi belum puas dengan gambar-gambar sebelumnya (manusia memang tiada pernah puas yah). Malamnya, saya ke China Town untuk cari seafood untuk makan malam. Di china town Singapore, banyak dijual seafood yang enak-enak, wajib coba kalu ke SG. Di china town juga dijual berbagai macam souvenir dan barang-barang khas Singapore yang bisa didapatkan dengan harga yang lebih miring daripada di tempat lain.

Sands SkyPark Singapore

China Town - Singapore

Me - in China Town Singapore

Malam hari; saya balik ke bandara. Sengaja tidak memesan hotel di Singapore karena pengen mencoba backpack dan tidur di Changi, bandara yang digadang-gadang bagus banget dan juga sangat nyaman buat kelosotan dan leyeh-leyeh. Dan memang ternyata yang tidur di bandara banyak, jadi berasa banyak temennya. Yang penting hati-hati saja menjaga barang bawaan.

Pagi pukul 08.40 saya terbang dari Singapore ke Hong Kong. Spesialnya adalah, pesawat saya Airbus A380, konfigurasi seat 3-4-3 (main deck) dan 2-4-2 (upper deck). Peswat ini dua lantai. Sudah kebyang kan besarnya seperti apa. Dari dulu (banget) saya bercita-cita naik A380 dan alhamdulillah baru bisa kesampaian saat ini. Pesawat segede itu, jatah seat banyak, tetep aja pesawat saya waktu itu penuh. Iya sih, kan Singapore - Hong Kong memang salah satu rute yang cukup sibuk.


HONG KONG

Siang hari yang terik, 12.40 waktu Hong Kong, saya menginjakkan kaki di tanah Hong Kong. Senang. Excited. Sedih juga karena bakal cuma jadi short trip. Setelah urusan ambil bagasi dan imigrasi selesai, langsung saya pasang local internet card di HP saya, waktu itu belinya di 7-Eleven bandara. Internet bagi saya penting sekali pada saat travelling: buat komunikasi, telepon, dan paling penting adalah buat kerja. Liburan kok kerja? Iya, karena saya kerjanya online-based, jadi basically bisa kerja dimana saja dan kapan saja. Hal ini lah yang membuat saya cukup fleksibel kemana-mana. Tapi ya gitu, sedikit-dikit liat HP, balas chat, terima telpon. Internet juga akan mempermudah kita menemukan tempat rekomendasi jalan-jalan, menemukan rute perjalanan tercepat, mencari spot foto terbaik. Jangan lupa kalau ke Hongkong download map-nya MTR (kereta Hong Kong, kaya MRT) atau download app nya di app store/play store juga boleh. Map ini yang akan memudahkan kita untuk memilih kereta mana yang akan dinaiki dan harus ambil transit di station mana saja. Untuk naik MTR, biar ngga ribet, saya beli kartu octopus, yang didalamnya diisi saldo untuk kemudian di-tap setiap kali mau naik kereta. Saldo bisa diisi ulang di station manapun.

Saya menginap di Tsim Sha Tsui, sebuah area yang sangat terkenal di Hongkong. Tempatnya strategis, dekat dengan pusat keramaian. Ternyata memang benar sesuai dengan review orang-orang. Kalau hotel di Hong Kong memang mostly bukan bangunan yang berdiri sendiri sebagai hotel. Ga cukup lahannya. Mengingat Hong Kong padat sekali, jadi mereka membangun gedung tinggi-tinggi dan itu sifatnya shared-building. Bisa jadi lantai 1-5 adalah pertokoan, lantai 6-10 adalah hotel X, lantai 11-14 Hotel Y, dan Lantai 15-18 hotel Z. Kira-kira seperti itu. Liftnya banyak, tangga nya banyak. Jadi jangan kaget, kalau di map sudah dibilang “you are on your location”, tapi ternyata kamu tidak menemukan hotelnya. Bisa jadi, hotelnya jadi satu dengan bangunan yang ada di situ.

Sampai di kamar, saya mandi, siap-siap exploring the city. Tanpa istirahat. Let’s go.

Masih siang. Masih ada banyak waktu untuk jalan hari ini. Saya langsung berangkat ke Victoria Peak. Naik MTR, saya turun di Central Station, ambil exit J2. Jalan keluar hingga menemukan Peak Tram Lower Terminus, stasiun kereta yang khusus untuk naik ke Victoria peak. Ini bukan seperti di Singapore atau New York yang kalau mau lihat kota dari atas harus naik ke gedung tertinggi hingga mendapatkan view gedung-gedungnya; melainkan naik ke atas bukit, literally bukit yang sudah terintegrasi dengan station kereta. Victoria peak juga bisa diakses dengan kendaraan seperti taxi karena sudah ada jalanan aspal nya yan menuju ke atas.

Nah by the way, tramp ini memang legendaris sekali. Kurang lengkap kalau ke Victoria peak tanpa naik tramp. Jalur tramp ini naik, miring, sekitar 45 derajat, jalannya tidak terlalu cepat, bisa sambil lihat pemandangan kota Hong Kong yang apik. Tapi, antre beli tiket-nya yang ga kuat. Kita harus spend waktu kira-kira 2-3 jam untuk antre tiketnya. Karena, saya ingin cepat, dan takut ga dapet sunset, akhirnya saya putuskan naik taxi saja. Mahal sih, tapi harus. Biar ga kemaleman. Sudah jauh-jauh ke Hong Kong tapi kalau ga dapet momen akan sangat disayangkan.

Di depan saya ada 2 orang yang sepertinya juga geram liat antrean panjang itu. Saya ngobrol basa-basi bentar, dan ujung-ujungnya saya ajak dia untuk naik taxi bareng. Ternyata mereka mau. Mereka adalah sepasang kekasih berkebangsaan Israel yang sedang berlibur (ceritanya saya obat nyamuknya waktu itu, *krik krik). Berangkatlah kami dengan biaya taxi yang dibagi tiga. Ga mau dong kalau bayar mahal sendiri, hehe. Kalau bisa murah dan cepat, kenapa ngga. Sekitar dua puluh menit menempuh perjalanan yang melikung-likung (Seperti hidup ini), sampailah kami di atas. Dari taxi drop off, kami harus masuk ke mall dulu, naik escalator berlantai-lantai hingga sampailah kami di lantai observatory, paling atas. Anyway, saya ditinggal sama mas dan mba Israel itu. Mereka pergi duluan setelah taxi drop off, karena saya harus beli tiket dulu, sedang mereka sudah beli duluan dari kemaren-kemaren. Nasib jombs.

Setalah sampai di top of the top, semuanya berasa terbayar. Pemandangannya sudah ngga usah ditanyakan lagi bagusnya. Tempat yang saya lihat selama ini di film-film action, sudah real di depan mata. Waktu itu sore, langitnya cerah, biru kuning menuju senja. Pas buat ambil gambar. Saya kerasan di Victoria peak sampe malam. Tapi ya gitu, kalau mau gambar bagus harus berebut tempat spotting dan antre dengan orang-orang. Tempatnya super rame, tapi sempit, ngga sebesar Skydeck-nya Singapore.

Hong Kong seen from Victoria Peak (just before sunset)

Hong Kong seen from Victoria Peak (in the night)

Pulangnya, saya ada dua pilihan lagi, naik taxi, atau naik tramp. Saya pilih naik tramp, mau coba sensasi nya, setidaknya harus pernah. Akhirnya saya rela-relakan untuk membeli tiket tramp yang antreannyaaaaaaaa mengular panjang (ngga lebay, memang faktanya gitu). Tapi memang benar, rasanya berbeda. Naik tramp ini, asik, seru, dan menegangkan karena menurun tajam. Pemandangan kota Hong Kong malam itu bagus sekali. Gemerlap kota, perbukitan dan sungai-sungainya terlihat indah berpadu. Tramp ini sesekali berjalan melewati bawah jembatan, bawah tanah dan pada akhirnya sampai di Tramp Lower Terminus. Keluar dari situ, saya langsung jalan ke stasiun MTR central (kurang lebih 1 km dari Tramp Lower Terminus). Balik lah saya ke Tsim Sha Tsui.

Malam hari, saya sempat terpikir bagaimana jika saya mencoba ke Macau juga. “Kan dekat, sekalian, mumpung di sini”. I kept browsing how to go to macau and what are things to see there. Browsing browsing sampai ngga kerasa, ketiduran akhirnya.

Pagi-pagi saya bangun dan segera saya ke Hong Kong - Macau Ferry terminal. Awalnya sempat salah-salah tempat sampai berkali-kali, udah kaya orang ilang cari-cari Ferry terminal ini. Satu sumber bilang saya harus ke station A, satu sumber bilang di station B. Pas saya kunjungi, lagi-lagi location spotnya adalah gedung besar. Ngga ada terlihat ferry terminal. Sempat bingung dan cari ke option ferry terminal lain. Inilah akibat trip tanpa itinerary, nyasar-nyasar, tapi ada seru-serunya dikit, jadi ada sesuatu yang bakal diingat. Kadang sumber-sumber di blog-pun juga kurang memberikan info yang lengap. Jadi, jalan-jalanpun sebenarnya harus cari info yang mateng dari beberapa sumber, ngga hanya asal jalan aja.

Pas sampai di Hong Kong – Macau ferry terminal, yang ternyata letaknya juga di mall, naik-naik escalator juga, saya dihadapkan dengan banyak option penjual tiket ferry. Yang berbeda, brand Ferry nya saja. Sama seperti pesawat, ada Garuda, ada Cathay, ada Singapore Airlines, dll. Saya pilih cotay water jet waktu itu, random aja sih sebenernya. Dapat jadwal berangkat ke macau-nya jam 13.30. Masih ada 1 jam spare waktu, saya pakai untuk makan.

Setelah cukup kenyang, saya masuk ke departure gate, yang sebelumnya harus melewati pengecekan tiket dan imigrasi keluar Hong Kong. Indonesian passport Holders are free to enter Hong Kong and Macau anyway, So, you don’t need to pay for Visa on arrival or apply visa before your departure trip. Kapal ferry nya nyaman dan berAC. Perjalan ini memakan waktu kira-kira satu jam. Awal berangkat saya masih lancar internetan (pakai  sim card Hong Kong), tapi setelah setengah perjalan, sinyal saya kemudian hilang sekejap, kebayang kan lagi balas-balas chat customer trus sinyal putus. Saat itu saya sudah memasuki area laut Macau. Bisa sih intenetan, tapi kan roaming, mahal. Saya masih ada 1 hari esok, jadi paket data ga boleh habis. Internet di HP saya off-kan.

MACAU

Sampai di macau, saya buru-buru jalan cepat (lari dikit-dikit) keluar dari ferry menuju Arrival immigration Macau, karena kalau ngga jalan cepet, saya akan dapat antrean imigrasi di belakang yang sudah pasti bakal antre lama. Berhasil. Saya sampai di imigrasi dalam antrean pendek, agak depan. Tidak beberapa lama, benar saja, di belakang saya antran sudah panjang. Huh, untung saja. Saya masuk ke Macau tanpa masalah. Welcome to Macau.

Yang saya butuhkan pertama adalah ganti sim card, karena lagi-lagi internetan dimanapun bagi saya sangat penting, ngga bisa kalau mengandalkan wifi terus (karena ngga semua spot ada wifi). Di Ferry Terminal Macau (Taipa) ini, ada fending machine yang jual sim card. Nah, di situlah saya beli sim card Macau. Setelah konek dengan internet, saya segera mencari pintu keluar dan mencari bus-bus yang katanya gratis itu.

Di macau ada banyak public bus yang disediakan pemerintah secara gratis. Yang penting jangan salah naik bus, nanti nyasar malah ga sampe di tujuan yang tepat, Anyway, saya sudah pernah merasakan nyasar, salah ambil bus, sehingga harus bolak balik. Untungnya bus nya gratis dan jarak attraction place satu dengan lainnya ga jauh. Sekitar 5-15 menit an masing- masing. Jadi, kalau ke macau, pastikan mau kemana dan naik bus nya apa. Karena tidak semua orang di sana mengerti bahas inggris, jadi kita sendiri harus prepare sebaik mungkin.

Saya ke Venetian Macau. Ini adalah salah satu gedung casino terbesar dan terkenal di Macau. Tujuan saya, ambil gambar di dalamnya, yang kabarnya menyuguhkan wisata bak berada di Vienna eropa seperti gambar berikut.






Venetian Macau

Venetian Macau Building (from the outside)

Casino Buildings

Sebenarnya gedung-gedung casino ini ada beberapa di macau, ngga hanya satu, eksterior dan interior nya sengaja dibuat bagus sekali. Di dalamnya, selain tempat casino, ada banyak tempat foto-foto, rekrekasi, shooping, hotel, dan mall. Kalau mau modal nol rupiah, bisa tuh foto-foto aja sampe puas. Gratis.  Anyway, saya dapat keberangkatan ferry untuk pulang ke Hong Kong jam 1 malam. Jadi saya masih ada spare waktu lumayan lama (5.5 jam an) di macau. Berbeda dengan Hong Kong yang menggunakan Hong Kong dollar, macau menggunakan mata uang Pataca (nama mata uang yang belum pernah saya dengar sebelumnya, honestly). Hong Kong Dollar juga diterima di macau, just in case kalau ngga punya dan ngga mau tuker ke mata uang pataca, bisa pake HKD (tidak berlaku sebaliknya). Di macau, ngga ada MTR kaya di Hong Kong, sebagai gantinya, banyak bus gratis itu yang bisa mengantar kita  ke tempat-tempat besar (penting) di macau.

Saat sudah cukup larut malam, saya naik bus kembali ke Ferry terminal macau (Taipa). Karena saya sampai di gate pas dengan keberangkatan ferry sebelum jadwal saya (ribet ya), 11.30 pm, sayapun diperbolehkan masuk ke ferry tersebut karena ferry nya juga lumayan kosong, sudah malam mungkin. It helps. Daripada saya harus nunggu jam 1 malam, ga kebayang sampe Hong Kong jam berapa. Sesampai di Hong Kong, saya harus naik taxi karena MTR sudah tidak beroperasi di atas jam 12 malam. Harus rela merogoh gocek lebih dalam, tapi untungnya taxi nya ber-argo, jadi ngga bakal ditipu-tipu masalah harga.

Pagi-pagi, hari ketiga, saya check out, dan menitipkan koper kecil saya di resepsionis, masih ada tempat dan waktu untuk eksplore Hong Kong. Pesawat saya malam. Bergegas saya jalan kaki ke The avenue of stars, cukup 15 menit jalan kaki. Sayangnya cuaca sedang foggy, jadi tidak mendapat gambar epic gedung-gedung di pulau seberang.



Some pictures taken in the avenue of stars

Puas ambil foto di avenue of stars, saya ke Ladies market. Tempat yang menjual segala macam souvenir dan barang-barang dengan harga miring(nya Hong Kong, which is tetep agak mahal menurut saya). Di Hong Kong saat itu, panas sih memang, siang suhunya 38 derajat C. Makanya banyak yang bawa payung, saya? Ga pake, jaket pun ngga. Hitam? Yes. Gapapa. Setalah belanja beberapa item untuk oleh-oleh keluarga, saya balik ke Hotel untuk mengambil koper saya.

Ladies Market


HKG Airport

Sore, saya ke bandara dengan MTR. Surprisingly, di Hong Kong International Airport, ada musholla. Jadi bisa sholat dengan proper. Tempatnya bersih dan tenang. Nyaman buat beribadah. Check in counter saya masih buka 1.5 jam lagi. Alhasil, saya duduk-duduk dan internetan menghabiskan paket data Hong Kong yang sebentar lagi tidak terpakai.

Di tempat check in, saya ketemu orang Indonesia, ibuk-ibuk muda, cantik, gendong bayi kira-kira 1.5 tahun. Kami ngobrol dan surprisingly ibuk itu tanya ke saya, “mas penerbangan kita di-cancel ga ya”. saya respon, “kenapa kok dicancel mba?” Kamudian, dia bilang ke saya kalau penerbangan-penerbangan pada dicancel karena cuaca buruk. Sontak kaget sih saya. Tiba-tiba saya kawatir akan jadwal dan keselamatan. Jadwal: karena saya ga bisa delay atau cancel lagi, besok saya harus sampai karena lusa wajib ikut agenda akbar penting dan tidak bisa ditinggal, ttd ijazah. Keselamatan: karena ternyata ada badai. Oh my. Dalam antrean check in itu, saya keep browsing sambil diselingi ngobrol sama Ibu tadi. Benar, ratusan penerbangan di Hong Kong dicancel pada hari itu akibat badai. Saya menyudahi browsing. Giliran saya check in.

Setalah check in, saya, yang ternyata seatnya bersebelahan dengan Ibuk tadi, menuju ke immigration check. Seperti biasa, antre mengular. Ini sudah biasa, ngga terlau kaget sih. Yang kaget adalah, setelah melewati imigrasi, saya jalan, terus, jalan, naik turun eskalator, dan tidak menemukan departure gate, melainkan kereta seperti sedang di station dalam kota, tapi ini di bandara. Di dalam imigrasi internasional. Baru pertama kali sih saya nemu ada kereta di dalam imigrasi. Bisanya kereta yang terintegrasi di bandara selalu di luar bandara (so far seingat saya yang saya pernah temui), atau di dalem bandara tapi sebelum masuk imigrasi. Kereta ini digunakan untuk mengangkut penumpang menuju gate keberangkatan. Bandara HKG menggunakan kereta karena untuk menuju gate departure, jaraknya cukup jauh. Yang mengagetkan adalah gate di terminal 2 saja jumahnya ada 560 gates, jauh melebihi jumlah gate yang pernah saya temui selama travelling kemana-mana (sejauh ini). Bayangkan betapa banyaknya. Layak sih kalau harus pakai kereta. Jangan sampe ya salah liat gate, ga kebayang balik dari gate 495 ke gate 24 misal. Lantai bandara ini berlapis-lapis tingginya. Berasa ada stasiun MTR banyak di dalam imigrasi bandara. Sayangnya, information gate saya belum keluar pas saya sampai train stop itu, jadi saya ke food court dulu untuk makan. Bersama ibu dan dedek bayi tadi, kami makan, yang tempatnya juga lumayan jauh harus naik-naik escalator lagi. Duh ga kebayang gedenya bandara ini. Bandara Hong Kong ini memang salah satu yang tersibuk di Asia (mungkin juga di dunia).

After dinner, informasi gate saya sudah keluar, dan saya dapat gate 260. Boarding time 1 jam lagi. Saya dan ibuk tadi jalan capat,turun-turun escalator, mengejar kereta. Naik kereta menuju gate keberangkatan berasa naik MTR yang pindah dari satu station ke station lain. Jadi, kalau travelling dari HKG international airport, pastikan Anda datang jangan mepet-mepet keberangkatan, karena bakal berabe aja kalau ketinggalan pesawat. Remember, kita harus antre check in (drop baggage), antre imigrasi, naik turun dan jalan jauh, abis itu naik kereta ke gate yang ratusan itu sebelum nemuin your departure gate. Untungnya penerbangan saya waktu itu delayed 1.5 jam, jadi saya tidak terlambat masuk peswat. Ini juga gara-gara gate info nya mepet munculnya tadi. Harus sering-sering cek layar LCD info penerbangan, karena di boarding pass saya waktu itu belum ada info gate nya. Pesawat saya delay akibat alasan cuaca. Anyway, saya jadi terbang. Beberapa penerbangan malam itu sudah diijinkan untkuk jalan. Saya udah kebayang-bayang bagaimana nanti di atas kalau badai. Apalagi saya ini naik budget airline pulangnya, maskapai scoot. Ga ngeremehin budget airlines sih, tapin ya rasa khawatir pasti ada. Pikiran udah macem-macem, doa komat kamit terus kupanjatkan agar esok ku bisa ttd ijazah dan wisuda dengan bahagia J.

Peswat kami berhasil take off, awalnya biasa saja, mulus, beberapa saat itu benar saja, pesawat saya goyang-goyang, naik turun, jatung kaya jatuh, kemudian diangkat lagi. Seat belt sign on terus, ga mati-mati. Penumpang ga boleh meninggalkan seat masing-masing, stay fastened with seat belt. Mulut saya ga berhenti berdoa. Ya Allah semoga saya kesampean wisuda. Satu jam pertama saya di atas peswat penuh dengan guncangan kecil-medium. Kalau pesawat sedang kena turbulensi, pasti kedengar suara gruduk-gruduk dari luar yang sampai di telinga penumpang. Goyang-goyang kaya naik angkot kuning yang lagi lewat jalanan aspal rusak karena bolong-bolong kehujanan. Naik turun. Entah, kalau goncang-goncang naik kendaraan darat berasa biasa saja, but It’s gonna be different in feeling when it comes to airlines. Ngga ada dataran untuk bersandar, kalau hilang control, pesawat bisa jatuh, naudzubilllah. Panik-panik sendiri tapi tetep diem, duduk tegak dengan tenang. Sejam berlalu, akhirnya kami bisa terbang normal, bye turbulensi. Saya ga bisa tidur. Pukul 02.30 am, saya mendarat selamat di Singapore. Alhamdulillah.

ARRIVED in SURABAYA

Ada waktu leyeh-leyeh dan nge charge HP sebelum saya terbang ke Surabaya. Pagi jam 08.30, saya akhirnya terbang ke Surabaya dan sampai dengan selamat. Tiket pulang saya yang Singapore Airlines 2 hari lagi? Yasudah harus rela ga dipakai, hangus. Demi ttd Ijazah.


Pangalaman Singapore, Hong Kong dan macau yang pendek ini betul-betul berkesan bagi saya. Empat hari, tiga negara. Capek-capek mengejar target tempat untuk dikunjungi, Lari-lari. Panas-panas. Merasakan makanan baru, kenalan dengan orang baru, naik moda transportasi baru dan melihat tempat baru adalah hal yang menjadi cerita indah untuk diingat. Yang sempat awalnya bingung berangkat atau tidak, but then I made It. 

0

JUEMUN (Japan University English Model United Nations) Gallery

Posted by Achmad Rizal on 06.04
Juni - Juli 2014 lalu, saya bersama teman saya Yabes David berkesempatan mengikuti kompetisi MUN di Jepang, namanya Japan University English Model United Nations (JUEMUN), betempat di Kobe City University. Ini adalah kali pertama kami menginjakkan kaki di negeri sakura. Kesan kami, Jepang merupakan negara yang sangat teratur dan bersih. sangat tepat waktu dan disiplin. Teknologi-teknologi terapannya jago lah pokoknya. 

JUEMUN berlangsung selama 3 hari (27-29 Juni 2014). MUN kali ini merupakan MUN saya kedua setelah UPESMUN di India Februari 2014 silam. Beruntung saya di sana bertemu dengan banyak teman-teman baru dari berbagai negara di dunia. 

Setelah lomba, kami menyempatkan berkeliling ke kota Osaka dan Sendai. Rasanya kurang lengkap kalau tidak mengenal budaya Jepang lebih jauh. Kami mengunjungi beberapa tempat yang memang menjadi icon 3 kota yang kami kunjungi (Osaka, Kobe, Sendai). Meski belum sempat ke Tokyo (Karena ternatasnya waktu), namun kami senang bisa mengenal Jepang dan tahu Jepang secara langsung. 

Kalau mau keliling kota, menikmati tempat wisata-wisatanya, lebih baik beli tiket loople bus yang akan mengantarkan Anda ke beberapa spot menarik di kota yang bersangkutan. Dijamin seru.

Pra keberangkatan dari Juanda International Airport-Surabaya


Transit di Ngurah Rai International Airport-Denpasar-Bali 


Tepat sebelum take off dari Bali


Osaka (KIX): tepat sebelum meninggalkan kabin. Bersama Sugumi-pramugari garuda asal Jepang

 

JUEMUN: Conference break


I was speaking in the moderated caucus



Just after the debate has closed


After closing ceremony


All JUEMUN 2014 delegates


Delegates from Indonesia: ITS, UI, President University, UNDIP


This building is like European Building, It's just next to Osaka Castle


Osaka Castle


Just before entering Osaka castle


Osaka: Universal Studio Japan


Setelah dari Kobe dan Osaka, Yabes dan saya mengunjungi Sendai. Saya ingin bertemu Dewi, teman SMA saya yang sekarang kuliah di Tohoku University dengan beasiswa. Keren ya dia.


Tohoku University: di balik pohon ini sedang ada dosen yang lagi ngajar di kelas


Kami di kampus Teknik Tohoku


Kampus Mechanical Engineering Tohoku University



Akhirnya ketemu juga. Next to me: Dewi


Kampus Tohoku siang hari


Ini ceritanya (lumayan) capek habis keliling-keliling kampus Tohoku


Ini di sebuah kuil di Sendai


(masih) Di kuil bersama Yabes


Ternyata ini isi kuilnya


Ini di salah satu tempat peribadatan masyarakat Jepang


Di sini saya menemukan banyak kebudayaan-kebudayaan Jepang


Nemu kastil lain di Sendai


Malam harinya, saya dan Yabes mencoba keliling sendiri (tanpa guidance dari Dewi) mencari makan dekat tempat kami menginap. Dan kami singgah di sini, ternyata, porsinyaaa (super) banyak.
Inilah makanan Pakistan.


Kalau di Jepang, pembangunan terjadi secara merata. Gedung-gedung, transportasi dan teknologi tersebar merata dengan baik


Yabes-Saya-Bang Rifqi (Mahasiswa S3 Tohoku): memburu oleh-oleh


Masih di Sendai, di sini pusat perbelanjaan mulai dari yang paling murah (murahnya Jepang) sampai yang paling mahal ada


Hari terakhir di Sendai. Teman-teman yang (semoga selalu) baik hati ini mengantar saya dan Yabes ke Sendai station


Selfie dulu sebelum meninggalkan Sendai


Kereta balik ke rumah sudah menjemput


Akhirnya sampai juga di Sendai Airport, siap melakukan perjalanan SDJ-KIX.
Untuk check in pesawat "peach" ini kami perlu melakukan perjuangan (keras) di meja check in yang penuh drama
(http://achmad3rizal3.blogspot.com/2015/04/bertengkar-dengan-petugas-check-in-di.html)


Keesokan harinya saya dan Yabes kembali ke Indonesia dari Osaka ke Surabaya via Denpasar (KIX-DPS-SUB). Terima kasih Dewi, Bang Rifqi dkk yang sudah mengajak kami jalan-jalan di Sendai. Kapan-kapan ketemu lagi.



Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive | Free Blogger Templates created by The Blog Templates