WELCOME to MY BLOG

WELCOME to MY BLOG
5

Mimpi Sejuta Bintang

Posted by Achmad Rizal on 04.32


Pengalaman mencicipi negeri India yang penuh drama, bertemu dengan diplomat PBB di Jepang, merasakan dinginnya salju Amerika dan menjadi pembicara TEDx ITS adalah sebagian perlajalanan ini menempuh mimpi sejuta bintang

Dulu sempat terpikir bahwa saya akan jadi buruh tani atau mandor atau bahkan pecangkul sawah. Kerja apapun lah yang penting halal, pokoknya bahagia hidup di desa bareng keluarga. Hanya ingin menjadi apa yang seperti yang bapak saya kerjakan. Serasa mimpi saya waktu itu pendek, mimpi yang semua orangpun bisa mewujudkannya. 

Nama saya Achmad Rizal Mustaqim. Bapak saya kerja di sawah. Setiap hari harus bersahabat dengan panas terik yang membakar punggungnya demi mendapat sesuap nasi. Ibu saya bantu-bantu sekadarnya dan lebih fokus menjadi ibu rumah tangga. Yang membuat saya bercita-cita pendek adalah fakta bahwa saya hidup dalam keterbatasan ekonomi dan lingkungan bergaul saya. Tinggal bersama dengan orang-orang desa yang setiap hari nyawah, bukan tidak mungkin membuat saya ingin menjadi sama layaknya mereka. Teman-teman bermain di rumah dan sekolah juga ngomongnya tidak jauh-jauh dari layangan, jemlok singit dan lari-lari di sawah. Semua tidak jauh dari sawah. 

Setelah saya dewasa saya baru sadar. Berpikir menjadi kuli sawah ternyata hanya mimpi yang terlalu pendek, mimpi yang bisa-biasa saja, bahkan tidak ada sangar-sangarnya sekalipun. Untunglah saya dikaruniai kecerdasan yang lebih dari teman-teman saya. Secara rutin, setiap tahunnya saya menerima raport dengan penghargaan juara kelas, selalu, dari SD sampai SMP. Muter-muter jadi juara I, II dan III. Alhamdulillah seringnya juara I. 

Berbekal menjadi lulusan kedua terbaik di SMP, saya memberanikan diri mendaftar sebuah beasiswa bernilai USD 15,000, Sampoerna Academy di SMAN 10 Malang. Beasiswa yang menyaring lebih dari 2600 pendaftar ini memang bergengsi dan terkenal seantero Indonesia. Seleksinya se Jawa Timur. Tapi susahnya Masya Allah. Ribet dan banyak syarat ini itu. Dari proses seleksi berkas, psikotes, akademik, FGD, wawancara sampai home visit, akhirnya saya lolos menjadi salah satu dari 150 Sampoerna Academy Scholars. Sangat tidak disangka-sangka. Wong ndeso, anak tani, bisa sekolah di sekolah internasional.

Dengan modal bahasa inggris saya yang lumayan, saya mudah menyesuaikan dengan lingkungan kurikulum sekolah yang mengadopsi kurikulum International General Certificate of Secondary Education (IGCSE) Cambridge ini. 

Saya kemudian dibesarkan di asrama, diajari bagaimana menjadi seorang intelektual yang memiliki nilai leadership dan moral value yang tinggi. Di SMA, saya berhasil menyabet puluhan prestasi. Bagi saya, ada kebanggaan tersendiri kalau bisa menyumbangkan piala-piala di lemari prestasi sekolah. 

Lulus SMA, saya sudah bisa berpikir maju dan bercita-cita tinggi. Bukan lagi menjadi kuli tani atau nyangkul di sawah. Bapak kini berharap lebih kepada saya. Anak pertama, laki-laki pula. Sudah pasti menjadi harapan keluarga. Inginnya bapak saya menjadi juragan, atau  kerja di perusahaan bonafit yang menggaji pekerjanya dengan upah yang tinggi. “Sebenarnya jadi apapun le, yang penting bisa ngangkat derajat orang tua.”

Memberanikan diri daftar kuliah, meski belum tahu dana dapat dari mana, saya memilih jurusan teknik mesin ITS. Jurusan yang kata orang menjanjikan gaji besar kalau sudah lulus nanti. Sembari jalan di awal saya menjadi maba, saya daftar Etos. Kedengarannya nama beasiswa ini tidak asing di telinga. Bermodal berani, saya mengumpulkan berkas meski rela-relaan harus pulang mengurus surat ini itu, foto kopi sana sini dan mengisi semua lembar-lembar form yang diperlukan. Saya mengikuti semua prosedurnya sampai wawancaranya juga. 

Hasinya saya LOLOS. 

Mau jumpalitan kegirangan, seneng tidak karuan karena saya dapat beasiswa untuk kuliah. Duh duh, siapa sangka saya bisa seberuntung ini. Berita dapat beasiswa ini datang sekaligus menutup keputusasaan saya untuk tidak melanjutkan pendidikan. Sungguh senang. 

Beastudi Etos, di sinilah saya diajari bagaimana menjadi mahasiswa yang tidak biasa. Saya mulai merajut satu per satu mimpi-mimpi saya. Dikenalkan dengan puluhan kisah kisah inspiratif, hati saya terketuk untuk menjadi orang yang lebih dari orang pada umumnya. Saya tergerak ingin menjadi yang terbaik. 

Berbekal asrama dan pembinaan yang luar biasa, saya belajar arti menjadi orang yang sederhana tingkahnya namun tinggi mimpinya, berani menjulang langit. 

Di mulai dari majelis ilmu sebelum matahari terbit, bersama dengan mahasiswa inspiratif lainnya, saya menuliskan 100 mimpi saya. saya tulis semua apa yang saya cita-citakan, tidak perduli mau orang berkata apa. Mau orang tertawa. Terserah. Yang penting ini mimpi saya. Semua saya tulis, mau kelihatannya mungkin atau tidak mungkin, yang penting satu per satu saya tulis. 

Rajutan mimpi-mimpi ini kini bukan hanya sebuah tulisan belaka. Saya yang kini duduk di tahun ketiga ini telah mencoret sebagian besar mimpi-mimpi tersebut. Pergi ke luar negeri, memenangkan lomba tingkat internasional, menjadi pembicara di forum besar adalah beberapa contohnya. Allah pada akhirnya mengabulkannya satu demi satu. 

Saat saya bermimpi pergi ke luar negeri, saya dikaruniai kesempatan menghirup udara Thailand, India, Jepang, Malaysia, Kuwait, UK dan Amerika. Saat saya berkeinginan memenangkan lomba di tingkat internasional, pada akhirnya saya bisa membawa pulang piala lomba debat simulasi PBB dari India dan Jepang. Saat saya bercita-cita menjadi pembicara di forum besar, pada akhirnya tahun 2014 kemarin saya diberi kesempatan untuk menjadi speaker TEDx ITS. Ternyata keterbatasan bukan menjadi alasan seseorang berkembang dan menjadi sukses.

Hanya mereka yang menggenggam keinginan meraih mimpi rapat-rapatlah yang mampu bertahan mewujudkan mimpinya. Saya hanya orang kecil yang dulu sering diremehkan orang. Mimpi itu hak semua orang. Siapapun berhak mewujudkan mimpi masing-masing. Prinsipnya adalah tidak boleh menyerah. 

Mimpi selanjutnya adalah menjadi diplomat PBB. Jurusan saya teknik mesin. Yang ingin saya wujudkan = UN diplomat on energy. Memang, saya sadar ini bukan mimpi yang umum. Bukan mimpi menjadi direktur atau kerja kantoran seperti kebanyakan orang. Silahkan tertawa. Toh dulu semua mimpi-mimpi saya adalah bahan tawaan orang yang kini satu demi satu berhasil saya coret. Dengan izin Allah, saya akan selalu berusaha mengejar bintang-bintang yang menjadi harapan saya dan keluarga. Mungkin nanti judul ceritanya, “Bertolak ke New York, Anak Tani ini menjadi diplomat internasional PBB”. Wallahua’lam bisshawaf.

Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive | Free Blogger Templates created by The Blog Templates